Rabu, 13 Oktober 2010

hE2.... biar ngilangin ngantuk.....sejenak ketawa.....

Dialog absurd di tengah kota Jakarta . Gak tahu kisah nyata atau bukan. Yang pasti semua ceritanya bersumber dari kiriman email pembaca setia.
Asli buat ngakak..kalo kamu gak ngakak berarti mungkin kamu salah satu objek dalam cerita nguping Jakarta . hahaha...


Duh, bikin puswing kamu!

Cheerleader #1:
(menyanyi sendiri) "Swing, swing, swing, swing..."
Cheerleader #2:
"Lho itu lagu bukannya kata-katanya 'Dreams' ya?"
Cheerleader #1:
"Oh iyah, yah? Kalo 'Swing' itu yang ada di Softex ya?"

SMA ternama Jakarta, didengar oleh pelatih yang merasa gagal mendidik.


Saya baru bisa keluar 3 tahun lagi...

Bapak pengemudi bayar parkir:
"Kok loketnya dikasih kerangkeng sih mbak?"
Petugas parkir:
"Biar saya nggak kabur..."

Sebuah mall di BSD, didengar oleh keponakan yang mengurungkan niatnya untuk bekerja di Jakarta .


Bis sekarang teladan...

Cewe baru belajar nyetir:
"Gua itu paling males nyetir di belakang bis, tau sendiri kan bis suka ontime nunggu penumpang... "

Kelapa Gading, didengar oleh saudara yang malas menjelaskan perbedaan besar "ontime" dan "ngetem".


Ini salah jari atau otak ya?

Lelaki sibuk di handphone:
"Halo X, gua telepon ke nomor satunya ya (tutup) Halo... (mulai ngomong panjang lebar)... Lho? Ini siapa? Oh sorry, salah sambung! (memencet nomor lagi) Halo Y, loe gimana sih, ngasih nomer X ke gua kok salah sih! Gimana sih loe? (diam sesaat) Lho? Ini bukan Y ya? Sorry salah sambung..."

Bank Swasta Pondok Indah, didengar oleh istri yang langsung tambah asik membaca email di BlackBerry-nya.


Itu beda lho...

Pengunjung:
"Mbak, Coke-nya satu ya, pake es..."
Pelayan:
"Maaf Mbak, Coke-nya gak ada, adanya Diet Coke."
Pengunjung:
(Menunjuk menu) "Terus ini apa, Coca-Cola... Kok dibilang gak ada?"
Pelayan:
"Kalau Coca-Cola ada, Mbak..."
Pengunjung:
"Huh!"

Cafe di FX, didengar oleh satu meja yang bersepakat menyuruh pelayan training ulang.


Wah, udah lama gak merhatiin dia...

Ibu mengejek anak kecil bersepeda:
"Ih, lihat tuh, badan segede gitu kok masa naik sepeda sekecil itu, hahaha... (sesaat kemudian)... Lah, itu anakku!"

Perumahan di Jakarta, didengar oleh teman yang langsung terbahak-bahak.


Ya namanya juga bajakan...

Saat nonton DVD,
Calon mahasiswa S1 FasilKom:
"Oi itu jangan lupa kemsyen-nya. ."
Teman #1:
"Kemsyen apaan sih?"
Calon mahasiswa S1 FasilKom:
"Itu kemsyen... kemsyen, masa gitu aja ga tau sih?"
Teman #2:
(mencari fasilitas "kemsyen" di menu) "Gak ada ah..."
Calon mahasiswa S1 FasilKom:
"Itu lho, kemsyen en subtitiles.. ."

Apartemen daerah Kemanggisan, didengar oleh semua teman yang ingin mengumpulkan dana buat les bahasa inggris.


AC/DC gityuuu looooh...

Ketua Panitia:
"Naahh.. pin yang ini desainnya bagus nih. Bisa buat cewek dan cowok. Biseks gitu!"

Rapat Buka Bersama, didengar oleh sepasukan panitia yang merasa si ketua terlalu banyak nonton porno.


Yang enak tuh lambaaaat dan merata.

Dua cewe sedang berbagi resep,
Cewe #1:
"Emang kalo cepet-cepet jadinya gak enak, ya?"
Cewe #2:
"Iya, ngocoknya mesti rata makanya."

Didengar oleh seseorang yang langsung berharap jadi adonan.


Buah simalakama.. .

Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik:
"De, pegangin setirnya. Mama mau garuk pantat!"
Anak laki-laki berusia 18 tahun:
"Ah, Mama! Gak mau ah!"
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik:
"Kamu mendingan megangin setir apa garukin pantat Mama?"

Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang yang ingin melompat keluar mobil.

Maksudnya dia suka aku, Ma?
Seorang ibu kepada anaknya:
"Sst! Jangan nangis! Ntar kamu ditembak pak satpam lho!"

Pertokoan di Jakarta, didengar oleh seseorang yang percaya kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

Lengkap banget deh...
Pelayan:
"Minumnya, mbak?"
Teman #1:
"Teh tawar anget"
Teman #2:
"Saya... Teh manis anget"
Pelayan:
"Hot tea... dan sweet ice tea hot" (tampang pede dan nyatet)

Sebuah resto di Plasa Senayan, didengar oleh 2 orang teman yang mesem-mesem dan segera membenarkan ucapan pelayan tersebut.


Untung dia bukan penjaga Quality Control...

Anak kecil di telepon:
"Halo... oh mas X sialan!... iya, dia kan penyial...

Didengar oleh seseorang yang hampir membanting handphone-nya.


Jadi selama ini masih ada yang lain?

Ibu menasehati anak perempuan semata wayang:
"Nduk, waktu ibu punya anak perempuan seusiamu..."

Didengar oleh kakak lelaki yang langsung berpikir apakah dia punya saudara kandung lain.


Sehat bener ya, jaringannya. ..

Programmer 1:
"Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2:
"Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator:
" Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand... "

Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan.


Emangnya gua badak?

Cewe mau ikut kursus:
"Mbak, kalo disini ada kelas conservation gak?"

Didengar oleh Student Advisor yang berasa di LSM.


Saya menghormati sejarah...

Account Executive:
"Baik, kalau begitu kita meeting lagi Senin tanggal 20..."
Klien Besar:
"Tanggal 20 itu hari Sabtu. Kita meeting Senin tanggal 22."
Account Executive:
"Tapi tanggal 22 itu hari Rabu. (diam sesaat) Ups, my mistake, ini kalender tahun lalu."

Didengar oleh semua kolega yang ingin membungkus AE itu dan mengirimnya ke Timbuktu .


I'm not worthy, I'm not worthy...

Klien Besar:
"Ya sudah, besok kita meeting lagi ya..."
Account Executive:
"Wah, bu, besok tidak bisa, kami ada janji dengan klien lain."
Klien Besar:
(memandang sinis) "I am not your client... I am your god."

Perkantoran di Gatot Subroto, didengar oleh seluruh tim agensi yang langsung menyatu dengan kursi masing-masing.

Kami perlu yang representatif. ..
Brand Manager:
"Hmmm, bagus, visual-nya bagus. Sayang copywriternya jelek."
Copywriter:
"MAKSUD LOE?"

Didengar oleh Creative Director yang langsung menawarkan mengganti copywriter sambil terbahak.


Yang pasti bisa buat nyelem...

Lelaki di toko kacamata:
"Yang itu dong, Mbak... Liat..."
Pramuniaga:
"Nah yang ini keren, Mas... Bahannya juga bagus, Titanic..."

Optik di Mangga Dua, didengar oleh pengunjung yang ingin mendorong pramuniaga ke laut.

Makanannya seru deh!
Cowo:
"Kemaren gua sama cewe gua buka puasa di PS 2..."

Didengar oleh semua teman yang merasa cowo itu terlalu banyak main game.


Jaman susah sih...

Pada saat telepon gratis dua detik pertama,
Cowo Hemat:
"Kamu dimana? (tutup) Apa? (tutup) Pulang... (tutup) PULANG! (tutup) Aku bilang kamu pula... Ah, goblok lebih dari dua detik!" (tutup)

Didengar oleh teman yang ingin merebut dan merebus handphone itu.


Jangan terlalu mateng ya!

Pria duduk dan langsung berteriak memesan:
"Mas, Ovaltine bakar satu!"

Warung Tenda Jakarta, didengar oleh seseorang yang hampir jatuh dari kursinya.


Yang horisontal kalau bisa!

Di sebuah restoran,
Teman #1:
"Eh udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2:
"Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!

Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya


Menurut sejarah, gak baik loncat-loncat. ..

Ditengah sebuah konser,
Wanita Bingung:
"Waduh... Minggir, minggir, kacamata saya jatuh... Awas jangan diinjak!"
Lelaki Baik:
"Kenapa mbak, kenapa?"
Wanita Bingung:
"Ini mas, kacamata saya jatuh, duh gimana ya?"
Lelaki Baik:
"Sini saya bantu cariin. Wah si mbak nih, makanya lompatnya pelan-pelan, jangan terlalu histori..."
Wanita Bingung:
"Histori?"

Senayan, didengar oleh penonton lain yang tiba-tiba tidak bisa loncat lagi.


Kalo nyapa yang bener dong... HUH!

Penjaga Toko:
"Silahkan kak, Giordano..."
Lelaki Gemulai Nan Jutek:
(Menatap sinis) "Sorry! Nama gua bukan Giordano!"

EX, didengar oleh teman-temannya yang langsung berteriak "Apaan sih tcooooong!"


Ini yang salah ngerti siapa ya?

Pria:
"Mbak, pesen es teh manis..."
Pelayan:
"Es-nya habis mas..."
Pria:
"Ya udah, es teh tawar..."
Pelayan:
"Iya, mas..."

Restoran di Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang berpikir cara buat es...


Ternyata bukan dongeng anak...

Istri:
"Itu loh, yang badannya pendek-pendek. .."
Suami:
"Apaan?"
Istri:
"Yang tokoh fairy tale..."
Suami:
"Ha, yang mana sih?"
Istri:
"Yang punya jenggot..."
Suami:
"Yang mana sih...?"
Istri:
"Itu lho, yang Snow White dan 7 Mucikari!"

Didengar oleh teman yang hampir berguling-guling.


Maksud gua buat naruh barang!

Mahasiswa S2 mengomel:
"Heran gua, hotel sebesar ini gak ada ballroom-nya! "
Teman:
"Emang loe mau ngapain, resepsi?"
Mahasiswa S2:
"Mau minta koper gua dibawain ke kamar nih!"
Teman:
"Bellboy kaleeeee!"

Hotel bintang lima di Kebon Sirih, didengar oleh semua teman gaulnya yang memaklumi mahasiswa yang baru saja tidak lulus TOEFL.


Eh tapi asik kali yeee...

Anak SMP #1:
"Setdah, masa tadi kelasan gua selang-seling gitu duduknya..."
Anak SMP #2:
"Ya elah, kesian bet kelas luh!"
Anak SMP #1:
"Iye, ntar bukannye belajar, malah pade bercinta!"

Angkot di pinggiran Jakarta, didengar oleh penumpang yang menuduh sinetron sebagai sumber kebodohan bangsa.


Gak usah pake mangkok aja!

Nyonya:
"Mbak, tolong beliin bakso di ujung jalan sana ya, beli empat bungkus, dua campur pake mie, dua baksonya aja..."
PRT Baru:
"Yang baksonya aja pake kuah gak, bu?"

Jakarta , didengar oleh seseorang yang tertawa gila-gilaan.


Dulu di percetakan ya, mas?

Penjaga Parkir:
"Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya."

Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya.


Pengetahuanmu luas, nak...

Mahasiswa #1:
"Eh, lo demen Mocca gak?"
Mahasiswa #2:
(berpikir sebentar) "Halal gak?"
Mahasiswa #1:
"Ya elah, bukan mocca minuman, tapi Mocca band!"
Mahasiswa #2:
(dengan begitu PD) "Ah, kalo band-band luar negeri gitu gua nggak demen..."

Jakarta , didengar oleh seseorang yang memejamkan mata dan berteriak dalam hati.

Belum, lagi jelek koneksinya.
Researcher:
"Eh pensil gua kemana ya?"
Researcher Khusyuk Internetan:
"Kenapa loe?"
Researcher:
"Pensil gua ilang! Loe tau gak dimana? Udah gua cari kemana-mana nih! Mana sih ya?
Researcher Khusyuk Internetan:
"Udah loe cari di google belum?"

R&D Jakarta, didengar oleh satu divisi yang merasa salah satu dari mereka kena penyakit internetan akut.


Kalo bisa yang triple L!

Ibu #1:
"Saya yang well-done ya."
Pelayan:
"Baik, bu. (Ke ibu lainnya) Ibu steaknya mau gimana?"
Ibu #2:
"Maksudnya mas?"
Pelayan:
"Mau yang medium atau..."
Ibu #2:
(Memotong dengan mantap) "Ooooh, saya yang large aja, mas!"

Restoran Steak di Jakarta Selatan, didengar oleh ibu lain yang merasa harus membenahi make-up tiba-tiba.


Makanya perhatian dong!

Si Pemimpi:
"Gua pengen bikin bagasi gua jadi home theater deh."
Si Serius:
"Hah, gimana caranya?"
Si Pemimpi:
"Ya nanti gua mau tambahin (mulai penjelasan teknis)."
Si Serius:
"Home theater portabel gitu?"
Si Pemimpi:
"Ya nggak lah, gimana caranya loe bawa-bawa bagasi?"
Si Serius:
"Ya ditenteng gitu? Eh, maksud loe bagasi apa nih?"
Si Pemimpi:
"Ya itulah! Yang tempat parkir mobil... Masa loe gak tau sih?"
Si Serius:
"Euh, itu kayaknya garasi kali!"

Reuni alumni di Jakarta, didengar oleh seseorang yang langsung harus ke kamar kecil.


Ah, jangan buka rahasia dong...

Tukang Sate:
"Masnya apa nih?"
Mahasiswa Tegas:
"Gua kambing! (ke temannya) Loe?"
Mahasiswa gemulai:
"Aku ayam..."

Pondok Sate di Jakarta Barat, didengar oleh mahasiswi yang merasa mendengar pengakuan.


Yang penting kan tata krama!

Pembeli Santun ke Penjual Sop Kaki:
"Daging tiga sama kaki dua, udah itu aja. Eh, kakinya yang kanan ya!" (Semua pengunjung tertegun)
Penjual Sop Kaki:
"Mmmm, kenapa harus yang kanan, Pak?"
Pembeli Santun:
"Yaaa, biar lebih sopan aja... Kakinya yang kanan gituuu!"

Tenda Sop Kaki Kambing di Tebet, didengar semua pengunjung yang hampir tersedak.


Otomatis ya, mbak?

Kasir:
"Mau order apa, mas?"
Pembeli:
"Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir:
"Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"

Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin.


Abis Bapak selalu pengen gabungin semua alternatif sih!

Account Director ke klien:
"Tapi pak hal itu sulat dilakukan! (hening) Euh, saya mau milih antara sulit dan sukar malah keluar dua-duanya."

Kantor di Gatot Subroto, didengar oleh kolega yang diam-diam melipir.


Ini pasti artinya tentang teknologi...

Webmaster:
"Gile, website bikinan orang-orang latin keren banget yah!"
Webdesigner:
"Hah, tau dari mana loe itu buatan orang latin?"
Webmaster:
"Itu ada tulisannya: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit..."

Sebuah kantor di Palmerah, didengar oleh webdeveloper yang langsung ngakak tak terkendali.


Saya kan gak pernah ngerti dunia itu!

Pejabat:
"Selamat sore, hari ini adalah hari yang bahagia karena kita menjadi tuan rumah untuk event internasional yaitu Festival Seni Koremponter. ..."
(Seluruh hadirin tertawa)
Pejabat:
"Maksud saya Korentomper. .."
Tamu Gemas:
"Kontemporer, pak!"
Pejabat:
"Ya harap maklum, saya kan bukan seniman!"

Galeri Nasional Jakarta, didengar oleh hadirin yang langsung mengeluarkan palu dan pahat.


Ini tindak lanjut yang penuh cinta!

Reporter:
"Pak, bagaimana perkembangan kasus korupsi X, apakah ada tindak lanjut dari instansi bapak, seperti pemberian sanksi ?"
Pejabat:
"Sejauh ini masih kita pantau dulu, hal ini sedang dibicarakan bagaimana2nya"
Reporter:
"Apakah justru ini melibatkan orang dalam pak?"
Pejabat:
"Loh, anda tidak boleh sembarangan begitu... Kita harus lihat situasi ini kiss per kiss nya..."
Reporter:
"Maksud bapak case by case ?"
Pejabat:
(malu) "Iyalah gitu."

Kantor Kepemerintahan, didengar oleh kameraman yang menutup mulutnya takut dicium...


Kan lulusan S3 Ilmu Angkotan!

Pengendara Motor Gak Sabar:
"Maju dong! Dasar Bego!"
Supir Angkot Intelektual:
"Kalo gua bego, gua gak bakal jadi supir angkot tau!"

Di bawah flyover Depok, didengar oleh penumpang angkot yang tiba-tiba mempertanyakan pendidikan yang dia jalani selama ini.


Gak mau tawar aja?

Mahasiswa Genit ke penjual kantin yang cantik:
"Mau es teh... manis."

Kantin kampus Jakarta, didengar oleh teman yang tiba-tiba sok belajar buat UAS.


Si Pitung ada gak, Beh?

Penonton Berisik:
"Naaah, nyang itu no Neo namenye, si Neo, Neo..."
Adegan di Layar:
"Hello, Mr. Anderson..."
Penonton Berisik:
""Eh bukan ding, bukan Neo... itu Mr. Anderson namanya!"

Bioskop pinggiran Jakarta Timur, didengar oleh penonton di depan yang memilih antara tertawa atau melempar popcorn.


Rgrds,

peace love and respect

Minggu, 03 Oktober 2010

Pengorbanan tulus seorang teman sejati

Sebuah cerita yang sangat mengharukan.. betapa Kasih Sayang dari seorang sahabat kecil ditunjukkan dengan sebuah empati tulus dan pengorbanan..

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata: “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata: “Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak… “….akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku? ”

Aku menjawab: “Oh, pasti sayang”.

Sindu: “Betul ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan. Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.

Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu: “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya..

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.”

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya: - “Tidak ada ‘yah, tak ada keinginan lain.”

Aku coba memohon kepada Sindu: - “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”

Sindu, dengan menangis, berkata: - “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: - “Janji kita harus ditepati..”

Secara serentak istri dan ibuku berkata: - “Apakah aku sudah gila?”

Aku: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: “Sindu, tolong tunggu saya.”

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya: “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!

Sabtu, 02 Oktober 2010

Review NegeriAds.Com - Bukan Scam

Dear teman-teman semua,.. Pada posting kali ini, saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira untuk Anda semua. Kabar gembiranya adalah: telah diluncurkan sebuah jaringan PPC baru, bernama NegeriAds.Com.

PPC Ads Network lagi? Betul sekali. Tapi tentu, jaringan baru ini tidak akan seperti yang lainnya. Jaringan PPC ini akan lebih user friendly, responsif dan tentunya juga lebih membawa untung untuk semua pihak.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi advertiser, untuk menyebarkan iklan tentang produk-produk Anda, atau produk-produk yang Anda affiliasikan, bisa mulai mencoba untuk mengiklankannya di jaringan NegeriAds.Com.

Cost per Click (CPC) sangat murah, hanya mulai Rp 400 / klik / iklan. Dan dengan dilindungi oleh sistem Anti Fraud (1 klik / IP / hari), Anda bisa lebih tenang dan yakin bahwa setiap sen uang yang Anda keluarkan tidak sia-sia.

Bagi para affiliate dan reseller, Anda bisa menjadikan jaringan NegeriAds.Com pilihan alternatif (atau bahkan pilihan utama) untuk beriklan. Bagi para product owner, Anda pun bisa melakukan hal serupa plus merekomendasikan jaringan baru ini kepada para affiliate dan reseller Anda (karena persaingan di jaringan PPC lain sudah ketat).

Untuk mereka yang ingin menjadikan blog / website yang sudah dimiliki sebagai sebuah mesin uang, segeralah bergabung menjadi publisher NegeriAds.Com, dan mulai jaring komisi dari klak-klik pengunjung pada blog / website Anda. Pendaftaran publisher 100% GRATIS.

NegeriAds.Com memberikan sharing profit yang adil, 50%-50% antara network owner dan para publisher. Untuk jenis dan ukuran iklan, disediakan berbagai ukuran iklan berbasis text dan gambar dengan standard tampilan yang sesuai dengan ukuran IAB.

Minimum payout hanya Rp 25.000 dan dibayar dalam waktu 7-14 hari setelah request komisi dilakukan. Ini jauh lebih baik daripada banyak jaringan PPC lainnya yang baru melakukan pembayaran setelah 30 atau bahkan 40 hari setelah payout diminta... mana mau nunggu lama-lama kan?

Kesimpulannya, NegeriAds adalah tempat yang tepat bila Anda ingin menjadi seorang Advertoser atau Publisher untuk market Indonesia. Jadi untuk Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang NegeriAds.Com dan ingin mendaftar (sebagai Advertiser atupun Publisher), silakan segera datang ke:

•••> http://negeriads.com/index.php?r=10249

Selamat mencoba menjadi publisher NegeriAds.

Salam sukses untuk Anda!

Jumat, 23 Juli 2010

Karakter Membangun Di Dunia Pendidikan

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum. Budaya Menghukum Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. "Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya."Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar- benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuhketerbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkankarakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Melahirkan Kehebatan Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

(*)RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI
Founder Rhenald Kasali School for Entrepreneurs

Kamis, 03 Juni 2010

Kebahagiaan seorang Ibu

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan."Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?" tanya si Pemuda."Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang kedua" jawab ibu itu."Wouw..... hebat sekali putra ibu, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya."Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu? Bagaimana dengan adik-adiknya?""Oh ya tentu", si Ibu melanjutkan ceritanya"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang."Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh."Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?"Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab."Anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar"Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses dipekerjaannya, sedang dia menjadi petani? Dengan tersenyum ibu itu menjawab,"Ooooo ...tidak tidak begitu nak... Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"Today's lesson :Everybody in the world is a important person!!! Open your eyes...your heart...your mind...your point of view...because we can't make summary before read "the book" completely.The wise person says...The more important thing is not WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE BEEN DOING!!

Rabu, 19 Mei 2010

Gaji Papa berapa?

Seperti biasa Andrew, Manager di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu papanya cukup lama diruang tamu

"Kok, belum tidur nak?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya jam segini Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ???"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, yaa ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayoooo ?"

Sarah berlari ke kamarnya mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya.

"Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, dan tidur" perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,
"Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ?
Papa capek. Dan mau mandi dulu Nak. Tidurlah". Ketusnya dengan nada setengah menekan.....
"Tapi Papa...." jawab Sarah ketakutan

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !!!!!" hardiknya mengejutkan Sarah. Gadis kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardikanya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang kertas Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, "Maafkan Papa Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.

Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini". masih terisak tangis yg belum reda....

"lya sayang iya, tapi buat apa nak...??" tanya Andrew dengan penuh kelembutan.

"Aku menunggu Papa dari jam 8 tadi. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh meniiiiiiit aja pah. tapi Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.....

Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,- Tapi uang tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah masih dengan isak tangisnya polos.....

Andrew pun terdiam. ia benar-benar kehilangan seribu kata-kata. Dipeluknya bidadari kecilnya itu erat-erat dengan perasaan haru & airmata yg mulai mengalir. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan bidadari kecilnya itu.....

" Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya "

Senin, 17 Mei 2010

Sukses Hingga Akhir

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
"It's not how you start out; it's how you finish up"
Setiap kali saya merenungkan kalimat di atas, jiwa saya merasakan suatu getaran bahkan perasaan takut. Ada satu pesan penting yang terkandung dalam kalimat itu, suatu pesan yang terlalu berharga untuk kita lewatkan. Itu sebab dalam artikel kali ini saya mengajak kita untuk sama-sama merenungkannya kembali. Bagi saya pribadi, kalimat di atas kira-kira bertutur begini: Eloy, sadarlah bahwa yang paling penting bukan bagaimana kondisi titik awal ketika Anda memulai perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Bahkan, bukan juga mengenai berapa besar kesuksesan yang telah Anda raih hingga detik ini. Bukan itu! Tetapi, sesungguhnya yang paling penting adalah bagaimana kondisi titik akhir daripada seluruh perjalanan hidupmu. Masing-masing kita memulai perjalanan dari suatu titik awal. Suatu titik yang berbeda bagi setiap orang. Diantara kita ada yang memulai dari kondisi serba cukup bahkan berkelebihan. Bayangkan saja seseorang yang lahir dari orang tua yang berpendidikan tinggi serta memiliki materi lebih dari cukup. Apalagi bila ia memiliki postur tubuh dan kondisi fisik yang serba baik. Tentu saja semua itu memberikan berbagai bentuk kemudahan untuk menuju suatu titik bernama "kesuksesan". Namun, diantara kita banyak juga yang memulai perjalanan dari titik awal dengan kondisi yang sangat terbatas. Saya pun termasuk dalam kelompok ini. Secara singkat, saya lahir sebagai bungsu dari enam bersaudara, di suatu desa yang sampai hari ini desa tersebut belum dialiri listrik dan jalan beraspal. Tidak heran bila baru pada usia sepuluh tahun saya berhasil melihat benda bernama mobil, karena pada usia itulah pertama kali saya keluar dari desa tersebut. Pada usia masih sembilan bulan ayah saya pergi untuk selamanya. Dan karena suatu faktor, sejak saat itu berbagai macam kesulitan dan penderitaan kami alami. Saya masih ingat, waktu masih anak-anak, saya tidak pernah berpikir atau membayangkan untuk sekolah di Jakarta, apalagi sekolah di Australia selama enam tahun, apalagi menjalani profesi sebagai Motivator & Business Trainer seperti saat ini. Satu hal yang saya tahu, saya memulai dari titik awal dengan kondisi yang sangat terpuruk.Tetapi seperti pesan dari kalimat pembuka di atas, bahwa kondisi awal bukanlah yang terpenting. Sebaliknya, pertanyaan yang membuat hati saya gemetar adalah ini: "Ketika saya tiba pada titik akhir itu, yakni detik terakhir Tuhan memanggil, dan saya meninggalkan dunia yang sementara ini, pada saat itu, akankah Tuhan menemukan saya tengah mengerjakan yang terbaik? Akankah Tuhan menemukan saya tengah bekerja dengan seluruh potensi yang telah Ia berikan?" Jelas, ini adalah sebuah perjuangan setiap detik, dan perlombaan sepanjang hidup. Tidak heran bila ditemukan bahwa sembilan dari sepuluh pejuang berbalik arah, menyerah pada kenikmatan sesaat dan berakhir dalam kemalangan. Maka sekali lagi mari kita ingat, bahwa bukan titik awal yang penting, melainkan titik akhir dari perjalan hidup kita masing-masing." Templeton & Clifford
Bila Anda cukup banyak membaca, Anda pasti pernah mendengar orang bernama Billy Graham. Tetapi bagaimana dengan orang bernama Chuck Templeton dan Bron Clifford? Apakah Anda pernah mendengar nama kedua orang itu? Kemungkinan tidak pernah, karena kedua orang itu pernah berjuang dan berhasil mencapai suatu kesuksesan besar namun mengakhirinya dalam keadaan mengenaskan. Dikisahkan bahwa pada tahun 1945, sama seperti Billy Graham, setiap kali Chuck Templeton dan Bron Clifford berkhotbah ribuan orang memadati auditorium. Ribuan orang rela mengantri berjam-jam hanya untuk mendengarkan mereka berbicara. Setiap kali mereka berbicara, mereka menyentuh hati para pendengar dan ribuan orang pun diubahkan hidupnya. Singkat kata, mereka bertiga pernah dikenal sebagai pembicara dan pengkhotbah ulung. Namun tidak lama setelah kesuksesan itu, pada tahun 1950, Templeton meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pengkhotbah. Ia menjadi atheis dan meninggalkan Tuhan. Demikian juga dengan Clifford, pada tahun 1954 ia kehilangan keluarganya, pekerjaanya dan kesehatannya. Perlahan-lahan Clifford bahkan kehilangan hidupnya karena kecanduan pada alkohol. Ia meninggal pada usia tiga puluh lima tahun. Ia pergi tanpa nyanyian dan tanpa penghargaan. Sungguh sebuah titik akhir yang membuat hati saya gemetar. Mengingat yang Terhilang Sekarang, cobalah ingat-ingat beberapa nama yang pernah Anda kenal sebagai seorang yang sangat sukses, seorang panutan, idola, atau bahkan seorang pahlawan bagi jutaan umat. Pada masa kejayaan mereka, kisah sukses orang-orang ini mungkin pernah diliput oleh berbagai media. Jutaan orang jatuh hati dan mengagumi mereka. Namun dimanakah mereka kini? Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka masih memberikan pengaruh positif? Apakah mereka, setidaknya dengan sisa kejayaan masa lalu, masih berjuang? Ataukah mereka telah jatuh, hancur berkeping-keping dan berakhir dalam keputus-asaan? Bagaimana dengan diri Anda sendiri? Mari merenung, dan mari menjawab dengan jujur, karena kalau kita sudah tidak lagi mampu jujur pada diri sendiri, lalu apa yang dapat kita perbaiki dari diri ini? Untuk mambantu Anda merenung, mohon jawab pertanyaan sederhana ini: Bila selama satu bulan ini seluruh kisah hidup Anda dibongkar di hadapan publik, ditayangkan di layar TV dan media lain, akankah dunia menyaksikan seorang yang lurus hatinya? Setelah seluruh isi pikiran dan tindakan Anda ditampilkan di hadapan semua orang, akankah Anda sendiri, bersama seluruh keluarga dan para sahabat berjalan mengelilingi kota dalam keadaan bangga, atau dalam keadaan malu dan kepala tertunduk? Jangan-jangan, segala kejahatan dan kebejatan kita, apakah itu perselingkuhan atau korupsi yang kita lakukan, ternyata hanya menunggu waktu untuk matang, lalu ia keluar dari persembunyian dan menari di hadapan khalayak banyak. Wah, betapa mengerikan ketika hari seperti itu benar-benar datang! Karena itu, sekali lagi, mari kita sadari dengan sungguh-sungguh bahwa yang paling penting bukan bagaimana kondisi titik awal ketika kita memulai perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Bahkan, bukan juga mengenai berapa besar kesuksesan yang telah kita raih hingga detik ini. Bukan itu! Tetapi, sesungguhnya yang paling penting adalah bagaimana kondisi titik akhir daripada seluruh perjalanan hidup kita masing-masing. Ketika seluruh isi pikiran dan tindakan kita ditampilkan di hadapan umum, akankah mereka menemukan seorang yang jujur dan lurus hati? Semoga! Sukses untuk kita semua. Karena apabila orang lain mampu dan bisa berarti Aku Pasti bisa..............Smoga bermanfaat...

BISNIS DAHSYAT DENGAN INOVASI TERBARU Rahasia Menghasilkan Uang Melimpah dengan memanfaatkan media Internet seperti Facebook dan Twitter...